|
Karya Budaya
|
|
Senin, 31 Mei 2010 |
|
Busana pengantin tradisional Majapahit  LONDON, KOMPAS.COM — Sekitar 500 undangan yang terdiri dari isteri pejabat dan Duta Besar negara asing di Athena, anggota Women International Club (WIC), pengusaha dan undangan dengan antusias mengikuti prosesi pernikahan yang dibawakan 32 peserta Asosiasi Perias Pengantin Seluruh Indonesia (HARPI Melati). Pementasan adat perkawinan Sunda dan Bangka tampil memikat pada acara "Indonesian Traditional Wedding Festival yanh sebelum prosesi pernikahan ditampilkan, anggota HARPI, Ny. Lilis Zakaria juga memperagakan kebolehannya dalam merias pengantin yang mengundang decak kagum para pengunjung di Hotel Divani Caravel, Athena, ujar Sekretaris Kedua, Widya Sinedu kepada koresponden Antara London, Sabtu. Selanjutnya, prosesi adat Sunda mulai dari acara Sungkeman, Saweran, Nincak Endog and Huap Lingkung menjadi daya tarik yang luar biasa.
|
|
|
Karya Budaya
|
|
Senin, 31 Mei 2010 |
|
LONDON, KOMPAS.COM — Nyai Ontosoroh, perjuangan seorang wanita Jawa yang mempertahankan hak dan martabat pribumi, drama teater garapan sutradara Wawan Sofwan dan produser Faiza Hidayati Mardzoeki mendapat sambutan meriah penonton di Zuiderpershuis Culturel Centrum, di kota Antwerpen-Belgia. Standing applause selama kurang lebih 15 menit menunjukkan antusiasme penonton yang memadati ruang pertunjukan usai menyaksikan drama teater "They Call Me Nyai Ontosoroh," ujar Sekretaris III Pensosbud/Diplik, Royhan N. Wahab, kepada koresponden Antara London, Sabtu. Dikatakannya cerita "They Call Me Nyai Ontosoroh" merupakan racikan atau adaptasi Faiza yang didasarkan pada novel "Bumi Manusia" (This Earth of Mankind) salah satu karya Pramoedya Ananta Toer yang diterbitkan pada tahun 1980.
|
|
|
Multi-Kultur
|
|
Senin, 31 Mei 2010 |
|
KOMPAS.COM — Irama gambang kromong terdengar merdu di pesisir pantai Tangerang. Petang itu, warga Cina Benteng dan Betawi bersama-sama hanyut dalam pesta ”shejit” (ulang tahun) Kelenteng Tanjung Kait. Begitulah gambaran harmonisnya hubungan masyarakat Cina Benteng dan Betawi di Tangerang yang terekam tiga tahun lalu. Hingga sekarang, hubungan harmonis yang telah berusia ratusan tahun itu masih terjaga. Setiap acara shejit digelar, pelataran kelenteng yang berada satu kompleks dengan Kramat Dewi Neng—tempat ziarah sebagian warga Betawi—itu menjadi tempat berkumpul masyarakat Cina Benteng dan Betawi. Sepanjang siang hingga malam, mereka bersama-sama menonton pentas seni Betawi dan Tionghoa yang tampil silih berganti di beberapa panggung.
|
|
|
Warisan Budaya
|
|
Kamis, 27 Mei 2010 |
|
JAKARTA, MEDIAINDONESIA.COM — Tak banyak orang yang tertarik mempelajari naskah kuno atau manuskrip di Indonesia. Hal ini mendorong sikap pengabaian atas keberadaan manuskrip kuno yang ada di Indonesia. Filologis Universitas Islam Nasional Oman Fathurahman mengungkapkan keprihatinannya atas hal ini padahal keberadaan manuskrip menjadi bukti otentik adanya budaya maju di Indonesia. Kesadaran atas pentingnya penjagaan manuskrip kuno bisa mendorong kebangkitan atas kecintaan kepada negara. "Rasa memiliki bangsa ini terhadap berbagai benda cagar budaya, termasuk manuskrip, sepertinya masih terpendam jauh dibawah sadar. Alih-alih memikirkan pelestarian dan pengelolaannya dengan baik, ratusan ribu harta karun dari Cirebon belakangan ini malah dilelang," ujarnya dalam sebuah diskusi di Wahid Institute, Jakarta, Kamis (20/5).
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 78 - 88 dari 1900 |