|
Multi-Kultur
|
|
Rabu, 07 Juli 2010 |
|
YOGYAKARTA, KOMPAS.COM — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin menyatakan bahwa kesenian ketoprak bisa menjadi ajang dakwah multikultural karena seni tradisi tersebut masih diminati oleh masyarakat. "Selain menjaga seni tradisi sebagai budaya bangsa, pagelaran ketoprak oleh Muhammadiyah juga dapat dijadikan sebagai media dakwah," kata Din usai tampil dalam pentas kethoprak Pletheking Surya Ndadari di Yogyakarta, Selasa malam. Ketoprak adalah sandiwara tradisional Jawa, biasanya memainkan cerita lama dengan iringan musik gamelan, disertai tari-tarian dan tembang. Menurut dia, cerita yang dibangun dalam ketoprak dapat disisipi dengan pesan-pesan moral keagamaan sehingga secara tidak disadari akan terserap ke benak penonton.
|
|
|
Warisan Budaya
|
|
Rabu, 07 Juli 2010 |
|
PACITAN, KOMPAS.COM — Belasan situs purbakala di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, rawan menjadi sasaran pencurian karena minimnya fasilitas dan tenaga arkeologi yang mengawasi serta merawat benda-benda cagar budaya itu. "Risikonya sangat tinggi mengingat sampai saat ini kami belum memiliki tenaga arkeologi yang secara khusus membidangi pengawasan sekaligus pemeliharaan benda-benda cagar budaya tersebut," kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Pacitan M Fathoni, Selasa. Petugas yang secara khusus menjaga di setiap area situs purbakala memang ada, namun hal itu sifatnya baru sebatas juru pemelihara (jupel).
|
|
|
Karya Budaya
|
|
Rabu, 07 Juli 2010 |
|
LONDON, KOMPAS.COM — Pertunjukan seni budaya yang dimainkan secara spektakuler oleh murid-murid "Sekolah Krida Nusantara" Bandung yang tergabung di dalam Krida Art Group (KAG) tampil memukau masyarakat Belanda di Kota Sluiskil yang terletak sekitar 172 km bagian Selatan Belanda. Berkali-kali pengunjung memadati gedung pertunjukan "T Meulengat" berkapasitas sekitar 300 orang berdiri memberikan "standing applause" setiap usai tarian, ujar Minister Counsellor, Information, Socio-Cultural Affairs, Firdaus Dahlan dalam keterangannya yang diterima koresponden Antara London, Selasa.
|
|
|
Karya Budaya
|
|
Kamis, 01 Juli 2010 |
|
LONDON, KOMPAS.COM — Sekitar 800 orang warga kota Lailly En Val, Perancis, berbondong-bondong menyaksikan pergelaran wayang kulit Ramayana yang dipersembahkan grup wayang kulit Wilis Prabowo pimpinan Widodo dari Wonogiri, Jawa Tengah. "Pertunjukan dilangsungkan di bawah sinar bulan purnama di pinggir telaga kota Lailly en Val," ujar Sekretaris Kedua Pensosbud KBRI Paris Agus Badrul Jamal kepada koresponden ANTARA News London, Rabu. Dikatakannya, dari anak-anak hingga Lansia sangat terpikat bahkan enggan beranjak dari tempat pentas yang dimulai pukul 22.00 hingga melewati tengah malam. "Hal ini antara lain dikarenakan keunikan pertunjukan wayang kulit dengan dialog berbahasa Prancis yang disisipkan sang dalang," kata Agus.
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 34 - 44 dari 1900 |