|
Warisan Budaya
|
|
Jumat, 05 Desember 2008 |
|
Wayang Krucil  BLORA, KOMPAS.COM — Mahameru, yayasan yang bergerak di bidang sejarah, budaya, dan arkeologi, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menerjemahkan lakon wayang krucil "Langen Driya" bertuliskan Jawa Kuno. Lakon tujuh jilid yang diterbitkan Balai Pustaka - Batavia Sentram antara 1932-1938 itu berkisah tentang roman zaman Majapahit akhir, Damarwulan dan Kencanawungu. Ketua Yayasan Mahameru Gatot Pranoto, Sabtu (29/11) di Blora, mengatakan "Langen Driya" merupakan roman jawa kuno jenis pelipur lara. Roman itu hanya beredar di kalangan keraton dan kerap didongengkan kepada anak-anak berdarah biru. Pada zaman Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara VII memerintah Surakarta, ia memperbolehkan "Langen Driya" dibaca masyarakat umum. Sejak itu, "Langen Driya" menjadi salah satu lakon wayang krucil. Wayang krucil merupakan wayang yang terbuat dari kayu (untuk badan wayang) dan kulit (untuk tangan wayang). Wayang yang berkembang di Jawa Tengah bagian timur itu merupakan sarana syiar Islam.
|
|
|
Warisan Budaya
|
|
Kamis, 04 Desember 2008 |
|
BENGKULU, MEDIAINDONESIA.COM — Disaat menyambut bulan Muharam, Provinsi Bengkulu biasanya dipadati lautan manusia. Penduduk setempat dan wisatawan tumpah-ruah merayakan Festival Tabot yang tiap tahunnya selalu diadakan. Festival Tabot digelar untuk mengenang peristiwa tragis yang menimpa Hasan Husein (cucu Nabi Muhammad saw). Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Muharam 61 Hijriah, saat rombongan Husein sedang dalam perjalanan ke Irak. Tiba-tiba pasukan tersebut digempur pasukan Yazid di Padang Karbala, dan Hasan pun gugur. Nama Tabot diambil dari bahasa Arab, yaitu At-Taubat yang berarti miniatur keranda kematian bertingkat untuk mengenang Hasan Husein. Kebudayaan ini dibawa dan diperkenalkan di Bengkulu oleh pendakwah dari Punjab, India, tahun 1336 Masehi dan juga oleh pasukan Gurkha (tentara bayaran Inggris) tahun 1685.
|
|
|
Warisan Budaya
|
|
Kamis, 04 Desember 2008 |
|
BENGKULU, MEDIAINDONESIA.COM — Untuk mengetahui pesona yang satu ini, Rumah Peninggalan Bung Karno di Bengkulu sebaiknya anda kenali sejarah singkatnya terlebih dahulu. Apalagi banyak menyimpan kenangan bersejarah bagi perkembangan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada jaman Kolonial, Bung Karno pernah dibuang dan diasingkan oleh pemerintahan Belanda di Bengkulu tahun 1938-1942, disini Bung Karno ditempatkan pada sebuah rumah yang terletak Pasar Anggut Atas, yang saat ini bernama Jalan Sukarno–Hatta. Di dalam rumah ini terdapat alat-alat rumah tangga, sepeda serta alat-alat lain yang dipergunakan Bung Karno pada masa pengasingannya. Di kota ini juga Bung Karno mempersunting Ibu Fatmawati sebagai Ibu Negara Pertama.
|
|
|
Karya Budaya
|
|
Kamis, 04 Desember 2008 |
|
SURABAYA, KOMPAS.COM — Lima seniman tari tradisional "Kabuki" asal Jepang akan tampil dalam pementasan khusus di Taman Budaya Jawa Timur, Rabu malam. Kehadiran mereka yang difasilitasi oleh Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya, Japan Foundation, dan Japan Art Council National Theater, adalah untuk memperingati 50 tahun hubungan kerja sama Jepang dengan Indonesia. Sebelumnya pada awal Nopember lalu, Konjen Jepang juga mendatangkan kesenian tradisional "Hono-I-Daiko" atau drum Jepang yang memukau warga di Surabaya.
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1684 - 1694 dari 1900 |