|
BANDUNG, KOMPAS.COM — Bertepatan dengan 200 tahun Kota Bandung, Fakultas Seni Rupa Desain ITB, akan menggelar pasar seni sepanjang 500 meter di Jalan Ganesha, Bandung pada bulan Oktober mendatang. Ketua Umum Pasar Seni 2010, Tisna Sanjaya, di Bandung, Selasa, mengatakan bahwa pasar seni ke-10 bulan 10 tahun 2010 adalah angka yang bagus untuk menyelaraskan citra ITB sebagai penggerak kebudayaan serta sebagai momentum dari kota seni dan budaya Bandung. Pasar seni yang akan diselenggarakan merupakan pasar seni yang legendaris, pertama diadakan tahun 1972 hingga saat ini telah menginspirasi pasar seni lainnya, seperti Pasar Seni Jaya Ancol di Jakarta.
Sampai saat ini telah terdaftar 300 pengisi gerai, acara yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Bandung ini akan menampilkan karya-karya seni rupa, teater, kebudayaan dengan pesan-pesan kehidupan sehari-hari, seperti pesan yang menyangkut persoalan lingkungan hidup, sosial, budaya, politik dan terutama isu-isu global. Secara esensi, gerakan ini adalah wadah lintas generasi yang akan mempertemukan masyarakat seniman bandung dan seniman dunia antara lain dari Singapura, Jerman, Belanda, Irlandia, dan Inggris. Sementara itu Manager Project, Hendy Hertiasa yang juga staf pengajar Desain Komunikasi Visual FSRD ITB, mengeluhkan kendala pada persiapan acara akbar ini, merupakan aspek komunikasi dalam konteks pasar seni yang belum memunculkan kesepakatan. Hal ini dikarenakan adanya kebaruan-kebaruan tiap generasi. Kebaruan yang dimaksud adalah, masyarakat plural akan melihat fenomena-fenomena perubahan seni yang dulunya nyaman berada dalam galeri namun, saat ini masuk pada area jalanan. Dari sanalah tercipta kemenarikan timbal balik antara masyarakat dan gerakan kebudayaan. Pada konsepnya Jalan Ganesha akan di atur sebagai etalase karya, disanalah akan terjadi dialog interaktif seniman dan masyarakat. Gerakan kebudayaan sendiri berdasar pada ide-ide mahasiswa yang merentang pada dasar Area Terlupakan dan Area Mengingatkan. Membahas area yang diungkapkan oleh Hendy, Tisna menambahkan beberapa contoh meliputi pekerja tambal ban, pengubur mayat, pekerja patri, pekerja adu japati, pemarkir, pembuat kerajinan tangan dan lainnya. "sebetulnya mereka adalah pembuat artistika penyangga-penyangga kebudayaan yang terlupakan," ucapnya. Penulis: JY | Editor: jodhi | Sumber : ANT (Sumber KOMPAS.COM, 28 Juli 2010)
|