|
JAKARTA, KOMPAS.COM — Bentara Budaya Jakarta (BBJ) di Jalan Palmerah Selatan 17, Jakarta Pusat, Kamis (22/7) pukul 19.30 WIB, menggelar pameran wayang bertajuk Mengenal Wayang, Mengenal Jati Diri Bangsa. Wayang dalam berbagai medium yang dipamerkan itu, merupakan koleksi BBJ dan bertu juan untuk menumbuhkan minat kaum muda/remaja mencintai khasanah budaya bangsa. Kepala Pengelola BBJ Paulina Dinartisti mengatakan, wayang, sebuah pencapaian seni budaya yang pada tahun 2003 dikukuhkan oleh Unesco sebagai warisan budaya dunia, akan tampil dalam wujud pementasan dan pameran. "Ada pementasan wayang golek sunda dan wayang golek cepak yang diupayakan ringkas, sekitar satu atau dua jam, menyesuaikan diri dengan kehidupan kota besar yang serba bergegas," katanya, Rabu (21/7/2010) di Jakarta.
Dipentaskan juga wayang dengan dalang remaja atau dalang cilik, sebagai bagian dari upaya untuk lebih men dekatkan diri dengan kalangan remaja. Berbagai pementasan itu dengan sendiri lengkap memuat unsur-unsur sastra, rupa, musik, dan teater. Meski demikian juga disiapkan satu pagelaran wayang kulit purwa semalam suntuk dengan dalang Ki H. Manteb Soedharsono. Menurut Paulina, pementasan wayang golek dan wayang kulit itu diharap bisa mewakili gambaran kehidupan teater tradisional ini, yang cukup tersebar dan nyata masih hidup di berbagai daerah. Di dalam pameran yang ditekankan adalah memberi kesempatan pengunjung mengapresiasi unsur perupaan di dalam budaya wayang. Hal itu diwujudkan dengan taktik penampilan boneka kulit dan kayu yang bisa mengingatkan mereka dengan eksposisi karya-karya rupa masa kini. Seperti diketahui, pameran karya-karya rupa kontemporer belakangan ini suda h menjadi ajang pergaulan kalangan menengah atas yang bisa menjadi magnet di dalam kehidupan perkotaan. Memasukkan serba neka wayang di dalam atmosfir seperti itu akan membuatnya menjadi bagian dari budaya perkotaan yang nyata dan berpengaruh kuat. Di samping wayang kulit dan golek, ditampilkan juga wayang dari anyaman rumput. Wayang kulit mencapai jumlah 212 buah. Wayang golek karya dalang kondang Asep Sunarya dari Bandung berjumlah 116 buah dikoleksi sejak tahun 1997,s edangkan wayang rumput karya pak Gepuk dari Purbalingga dikoleksi sejak tahun 1995. Pameran yang berlangsung hingga 31 Juli mendatang itu, dimeriahkan juga dengan adanya lukisan kaca bertema wayang, buku-buku tentang wayang dan pemutaran film wayang serta pementasan wayang kulit dan golek. Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama den gan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi), Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) dan Gelar. Editor: Abi (Sumber KOMPAS.COM, 21 Juli 2010)
|