|
Rabu, 14 April 2010 |
|
SOLO, KOMPAS.COM — Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mulai tahun 2010 mendata benda cagar budaya (BCB) yang tersebar di seluruh Indonesia. Pendataan BCB itu dilakukan melalui 10 Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3), kata Sekretaris Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Suroso kepada wartawan seusai bertemu dengan Walikota Surakarta Ir Joko Widodo di Loji Gandrung Rumah Dinas Walikota Surakarta, Senin. BCB yang terdata di Indonesia sampai saat ini baru sekitar 4000-an, karena itu mulai tahun ini dilakukan pendataan benda-benda tersebut.
|
|
|
Kamis, 08 April 2010 |
|
Benteng Vredeburg  JAKARTA, KOMPAS.COM — Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) merencanakan restorasi terhadap 273 benteng yang tersebar di seluruh Indonesia. "Kami memang bertugas untuk memugar dan merestorasi benteng-benteng yang ada, kemudian menjadikannya sebagai destinasi pariwisata yang pada akhirnya membawa kesejahteraan masyarakat di sekitarnya," kata Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Kemenbudpar, Harry Untoro, di Jakarta, Selasa. Harry menjelaskan, pihaknya telah mencatat bahwa saat ini ada sebanyak 273 benteng yang siap direstorasi dari sekitar 600 benteng yang sudah didata ulang di seluruh Indonesia.
|
|
|
Rabu, 10 Februari 2010 |
|
BANDARLAMPUNG, KOMPAS.COM — Seniman Lampung I Wayan Sumerta Dana Arta mematenkan laras pelog, suatu bahan kajian akademis terhadap susunan nada dalam alat musik tradisional asal Lampung Barat, yaitu gamelan pekhing atau cetik. "Tujuan dari pematenan pada Hak Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan HAM RI itu adalah agar permainan cetik bisa dipelajari secara akademis, sehingga tidak punah dan diambil oleh bangsa lain," kata Wayan sumerta, di Bandarlampung, Selasa. Laras pelog adalah nada dalam satu oktaf yang ada pada gamelan pekhing atau cetik, alat musik pentatonis tradisional asal Lampung Barat. Sebelumnya, untuk membunyikan alat itu, seniman melakukan dengan pendekatan perasaan, tanpa pernah bisa dipelajari secara akademis.
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 7 dari 31 |