Rabu, 10 Maret 2010

Login Form






Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar

Pengunjung

Hari Ini111
Kemarin114
Minggu Ini324
Bulan Ini1035
Total65555

(C) Fliesenstadt

Webmaster

webmaster: santany, email:santany32@gmail.com, phone: 021-92 7575 89, 021-93088359
Forum Kebudayaan Indonesia Mengucapkan Selamat Tahun Baru 2009. Terhitung mulai Hari Kamis,1 Januari 2009, www.forumteknologi.org sudah bisa dinikmati oleh segenap Pecinta Teknologi
Advertisement

Home
BERITA BUDAYA (dari media)
Keraton Kanoman Terengah-engah Melintas Zaman
Warisan Budaya
Rabu, 10 Maret 2010

Keraton Kanoman
Dian Anditya Mutiara
KOMPAS.COM Sebuah pendopo dikelilingi tembok bercat putih, tak terawat. Salah satu sisi gapuranya hanya menunjukkan bekas porselen dari Tiongkok yang pernah ditanamkan di temboknya. Belum lagi coretan dinding yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab ditambah rerumputan tumbuh meninggi di beberapa tempat di halaman. Demikianlah pemandangan yang terlihat begitu menginjakkan kaki di depan gerbang sebuang keraton.

Itu hanya sebagian gambaran dari Keraton Kanoman yang ada di Kota Cirebon. Kondisi kurang baik ini diperparah dengan lokasi yang berada di balik keramaian Pasar Kanoman. Untuk menuju ke keraton, baik mobil maupun becak harus menerobos kerumunan para pedagang.      

Tak terbayangkan bahwa tempat itu menyimpan sejarah panjang tentang kepahlawanan, juga syiar Islam, jika tidak menatap baik-baik bangunan utama. Memang tidak sebesar bangunan-bangunan di Keraton Yogyakarta atau Surakarta tetapi masih memancarkan kharisma tersendiri.

 
Mengemas Kerumunan di Kota Tua
Aktivitas Budaya
Rabu, 10 Maret 2010

Kafe Batavia
Pradaningrum Mijarto
KOMPAS.COM "Kayak Taman Ria, ya," celetuk beberapa orang melihat kerumunan di seputaran Taman Fatahillah hingga ke Kalibesar. Yang lain tak sepenuhnya mengungkapkan dengan kata yang persis sama. Namun intinya, keramaian orang yang mengepung Taman Fatahillah hingga Kalibesar, apalagi di malam hari, belakangan ini memang makin meningkat. Bagi sebagian orang, katakan saja pedagang kaki lima, ojek sepeda yang kian beragam—tak lagi khusus sepeda ontel—keramaian itu tentu saja merupakan potensi. Pengunjung inilah yang diharapkan akan membuang uang untuk menyewa sepeda, minum, makan, dan lain-lain.

Namun, apakah keramaian yang seperti itu yang diharapkan dalam rangka revitalisasi Kota Tua Jakarta? Sebuah keramaian yang tak jelas arahnya? Kerumunan orang yang datang sekadar datang dan bikin penuh kawasan itu? Tentu saja tidak karena, jika demikian, maka upaya menjadikan kawasan tersebut sebagai kekuatan ekonomi kreatif akan jadi angan-angan belaka.

 
Populasi di Kawasan Kota Tua Turun Drastis
Wisata Budaya
Rabu, 10 Maret 2010

Pradaningrum MijartoKOMPAS.COM Siapa yang tak terpikat akan kenangan Jakarta tempo dulu? Baik saat masih bernama Batavia maupun saat sudah berubah nama menjadi Jakarta, sekitar tahun 1940-an. Jika Firman Lubis, sang dokter, menumpahkan kenangan soal penduduk Jakarta di tahun 1950, maka Bernard RG Dorléans berkisah tentang Jakarta sejak 1968. Doktor bidang geologi itu sudah menetap di Jakarta sejak tahun tersebut. Ketika itu, menurutnya, populasi Jakarta sudah mencapai empat juta penduduk.

Kota setengah desa ini, kata Dorléans, di masa itu sudah dihiasi Hotel Indonesia, toko serba ada Sarinah, dan gedung Nusantara yang belum kelar. Selain itu, ia juga berkomentar soal Jembatan Semanggi yang telantar. Sebuah persimpangan jalan moderen yang tak lazim bagi jalan dengan lalu lintas yang sedikit. Pasalnya, kala itu, Jembatan Semanggi membelah daerah yang tanpa penghuni sepanjang lima kilometer sebelum sampai ke kota satelit, Kebayoran Baru. Sementara itu, sebelum sampai ke Tanjungpriok, orang akan melewati rawa-rawa sepanjang empat kilometer. Areal persawahan juga masih hidup, demikian pula kebun-kebun milik warga Betawi di selatan Jakarta.

 
Jelajah Lima Museum Sambil Belajar Tentang Kota Kreatif
Wisata Budaya
Rabu, 10 Maret 2010

Balai Kota Batavia
Tropenmuseum
KOMPAS.COMLiverpool, Inggris, setelah Perang Dunia II dihadapkan pada tugas membenahi perumahan warga yang hancur kena bom. Lebih luas, membenahi kota yang sudah sejak tahun 1920-an morat-marit. Tahun 1950-an dan 1960-an kota ini gencar membangun kembali pusat kota mereka dan perumahan warga dalam bentuk flat.

Industri di Liverpool mengalami perkembangan dahsyat di antara tahun 1950-an dan 1960-an namun kemudian berubah di penghujung 1970 hingga 1980-an akibat resesi ekonomi. Alhasil, kota ini jadi kota yang ditinggalkan, jadi kota pengangguran dengan tingkat masalah sosial yang tinggi. Buntutnya adalah kerusuhan di tahun 1981.

Di tahun 1980-an Albert Dock, sebuah kompleks dermaga dan gudang dari tahun 1840-an dipugar kemudian berubah fungsi menjadi kawasan hiburan. Kawasan ini dialihfungsikan menjadi bar, toko, dan restoran.

 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 11 dari 1716