|
BERITA BUDAYA (dari media)
|
Warisan Budaya
|
|
Senin, 08 Februari 2010 |
|
DENPASAR, KOMPAS.COM — Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Udayana Prof Dr Wayan P Windia menilai, tradisi kehidupan desa adat (pekraman) di Bali hingga kini tetap kokoh dan eksis sesuai perkembangan zaman, meski hal itu diwarisi jauh sebelum Indonesia merdeka. "Masing-masing desa pekraman mempunyai adat kebiasaan atau `awig-awig` untuk mengatur tatanan kehidupan, sesuai situasi dan kondisi objektif tempat, waktu dan keadaan (desa, kala, patra)," kata Wayan Windia di Denpasar, Senin. Ia mengatakan, meskipun demikian bukan berarti desa adat di Bali bebas dari masalah, karena berbagai persoalan muncul dari aktivitas keseharian warga desa pekraman.
Hanya saja masalah yang muncul lebih sederhana yang dapat diselesaikan secara sederhana pula oleh perangkat pimpinan (prajuru) desa adat, sesuai ketentuan yang telah disepakati bersama, baik secara tertulis maupun lisan.
|
|
|
Warisan Budaya
|
|
Senin, 08 Februari 2010 |
|
DENPASAR, KOMPAS.COM — Gurubesar Fakultas Hukum Universitas Udayana Prof Dr Wayan P. Windia menilai, tradisi kehidupan desa adat (Pekraman) di Bali hingga kini tetap kokoh dan eksis sesuai perkembangan zaman, meski hal itu diwarisi jauh sebelum Indonesia merdeka. "Masing-masing desa pekraman mempunyai adat kebiasaan atau `awig-awig` untuk mengatur tatanan kehidupan, sesuai situasi dan kondisi objektif tempat, waktu dan keadaan (desa, kala, patra," kata Wayan P. Windia di Denpasar, Senin. Ia mengatakan, meskipun demikian bukan berarti desa adat di Bali bebas dari masalah, karena berbagai persoalan muncul dari aktivitas keseharian warga desa pekraman. Hanya saja masalah yang muncul lebih sederhana yang dapat diselesaikan secara sederhana pula oleh perangkat pimpinan (prajuru) desa adat, sesuai ketentuan yang telah disepakati bersama, baik secara tertulis maupun lisan.
|
|
|
Warisan Budaya
|
|
Senin, 08 Februari 2010 |
|
KOMPAS.COM — Sejarah Jakarta tak bisa lepas dari keberadaan bunker (ruang bawah tanah). Bunker-bunker ini tersebar di bawah tanah Jakarta. Tak hanya di kawasan Kota Tua, atau Tanjungpriuk, data yang ada menyebutkan kawasan Kramat, Kebon Sirih, hingga Meester Cornelis pun menyimpan bekas bunker di bawahnya. Ketika saya mendengar kabar ada satu lagi bunker di kawasan Kota Tua, tentu ini menjadi penggenap data tentang keberadaan bunker di bawah tanah Jakarta. Mencari sejarah bunker di Batavia, tak seperti mencari kisah tentang bagaimana Batavia dibangun. Kisah tentang bunker, seperti keberadaan bunker itu sendiri, berada jauh terselip di dalam terbitan-terbitan, baik majalah ataupun koran yang terbit di Belanda. Tak masalah, yang penting ada sedikit data, kemudian menelusuri fakta di lapangan. Maka sekali lagi, setelah bunker di bawah Stasiun Tanjungpriuk, bunker di depan Museum Sejarah Jakarta (MSJ), kini bunker lain terkuak sedikit.
|
|
|
Warisan Budaya
|
|
Senin, 08 Februari 2010 |
|
KOMPAS.COM — Gedung Internationale Credit en Handelsvereeniging Rotterdam, sebuah gedung cantik dengan dua menara. Gedung itu kini milik PT Tjipta Niaga. Memandang gedung bikinan tahun 1913 dari Jalan Kali Besar Barat, bikin penggemar foto tak akan melepas kesempatan mengambil bayang bangunan yang memantul dari kumpulan air di Kali Besar. Menurut sebuah penelitian tentang beberapa gedung di kawasan Kota Tua, gedung itu adalah gedung keempat di Batavia yang dirancang Biro Arsitek ed Cuypers en Hulswit. Gedung ini memanjang dari barat ke timur, menghadap ke kanal Kali Besar persis di Jalan Kali Besar Timur. Rotterdam Internatio, begitu nama kecil gedung tersebut adalah perusahaan lima besar yang bergerak di bidang perbankan dan perkebunan. Perusahaan ini antara lain melakukan pembelian sewa-menyewa kapal, juga membuka kredit-kredit dan deposito. Meski tampak depan kelihatan masih kokoh, bagian dalam gedung ini, khususnya bagian atap, sudah hancur.
|
|
| | << Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>
| | Hasil 1 - 11 dari 1687 | |