Kamis, 20 November 2008

Login Form






Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar

Pengunjung

Hari Ini17
Kemarin94
Minggu Ini349
Bulan Ini1219
Total2402

(C) Fliesenstadt

Webmaster

webmaster: santany, email:santany32@gmail.com, phone: 021-92 7575 89, 021-93088359
"SITUS INI DALAM TAHAP PENGEMBANGAN"
Advertisement

Home
BERITA BUDAYA (dari media)
TRADISI : Darah baru Keroncong Tugu
Aktivitas Budaya
Wednesday, 19 November 2008

http://www.kabarinews.comJAKARTA, KOMPAS – Angela Michiels (7) membuat pengunjung Festival Kampoeng Toegoe terpesona, Sabtu (15/11). Tepuk tangan membahana seusa ia membawakan lagu rakyat Portugis, ”Tres Pombinhas” (Tiga Merpati) dan ”Bintang Kejora”, lagu anak-anak gubahan AT Mahmud. 

Bocah perempuan itu pun mejadi fokus jepretan kamera belasan wartawan foto dan kamerawan televisi yang meliput acara yang digelar di halaman Gereja Tugu, Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Meski umurnya baru tujuh tahun, Angela sama sekali tak terlihat canggung tampil di atas panggung. Rupanya, ia mewarisi bakat ibunya, Saartje Michiels, biduanita keroncong tugu kawakan. Wajah cantik indonya merupakan nilai tambah yang menjadikan Angela pusat perhatian semua orang sepanjang siang hari itu. 

Angela, yang bernama lengkap Angela Julliete Margriette Ermestine Michiels, adalah vokalis Krontjong Toegoe Junior, orkes keroncong bocah Kampung Tugu. Siang itu ia tampil diiringi musik keroncong yang dimainkan rekan-rekannya.  

Mereka adalah Arend Michiels (11) pada biola, Nabila Formees (15) pada cello, Adrian Michiels (9) pada prounga (gitar berdawai tiga), Augusta MH (17) pada mecina (gitar kecil berdawai empat), Revila Formess (16) pada contra bass, George Febrian Adolf M (11) pada gitar, dan Rafeel Formees (7) yang bermain rebana.

 
Bungker Bogor Peninggalan Sejarah
Warisan Budaya
Wednesday, 19 November 2008

http://acen147.blogspot.comJAKARTA, MEDIA INDONESIA – TIM survei cagar budaya dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) kemarin meyakini kompleks bungker yang ditemukan di Bukit Gumati, Cipaku, Bogor, sebagai peninggalan sejarah pertahanan militer. 

“Ini memang peninggalan sejarah,” kata ketua tim survei cagar budaya BP3 Zakaria Kasimin, kemarin. Namun untuk mengetahui tahun asal atau menentukan pembangunnya adalah tentara Belanda atau Jepang, tim masih akan meneliti lagi. 

Sayangnya, dua unit bungker dan sebuah rumah tua yang diduga sebagai ruang kerja pasukan pendiri sudah hancur akibat pembangunan kompleks kuliner Bukit Gumati. 

 
ASAL USUL : Pempek
Karya Budaya
Wednesday, 19 November 2008

http://kempelangrizky.files.wordpress.comJAKARTA, MEDIA INDONESIA – PALEMBANG sebagai kota yang dialiri Sungai Musi, sejak dulu menjadi persinggahan bagi para pedagang dari berbagai negara, antara lain dari etnik Tionghoa. 

Tidak hanya singgah untuk berdagang, beberapa di antara mereka memutuskan untuk menetap, dan memulai kehidupan baru di kota ini. Mereka banyak mendiami daerah Kampung Keraton, yang sekarang termasuk bilangan Kampung Masjid Agung dan Masjid Lama. 

Warga etnik Tionghoa mencari penghidupan tetap di Kota Palembang dengan cara berdagang. 

Dahulu, dalam ucapara adat tertentu, mereka menyajikan makanan berbahas dasar ikan dan sagu untuk keperluan adat. Baru pada 1916, penganan itu dijual oleh seorang keturunan Tionghoa bernama Sipek. 

 
TEMPO DOELOE & KINI : Pasar Beringharjo
Warisan Budaya
Wednesday, 19 November 2008

http://www.tembi.org JAKARTA, MEDIA INDONESIA – PASAR ini terletak di Jl Pabringan No. 1, Kota Yogyakarta, berada di ujung Jalan Malioboro. Pasar yang menampung 5.067 pedagang ini telah menjadi pusat kegiatan ekonomi selama ratusan tahun. Pasar ini memiliki makna historis dan filosofis dengan keberadaan Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. 

Pasar Beringharjo adalah salah satu komponen utama dalam pola tata kota kerajaan Islam yang biasa disebut pola catur tunggal, yaitu keraton, alun-alun, pasar, dan masjid. 

Pasar Beringharjo dahulu hanyalah sebuah lapangan luas yang becek dan banyak ditumbuhi pohon beringin. Di sisi timur pasar itu dahulunya adalah bekas makam orang-orang Belanda. Pada 1758, Sri Sultan menetapkan daerah ini menjadi tempat pertemuan rakyat. Sejak itu, mulai bermunculan payon-payon sebagai peneduh. 

 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 11 dari 149
Perlukah ada semacam "Hari Kebudayaan Nasional"?
 
Kalau perlu, sebutkan namanya?
 

Who's Online

Komentar Anda

Latest Message: 14 hours, 53 minutes ago
  • admin : silahkan coba login lagi mbak gast_7064..
  • gast_7064 : mbak sayasdh register tp kok gak bs login pdhl password sudah saya masukkan dgn benar, gmn ini mbak admin
  • NmN : Salam untuk rekan semua...btw semakin hari, semakin memikat ya web-nya, sekarang sudah ada gambarnya pula....bgmana menurut rekan2 yang lain? "setuju pastinya"
  • gast_7070 : mbak intan..gallery sudah kami tambahkan..
  • intan : Dongeng dan gallery budaya...kayaknya oke juga bila di tampilkan..
  • admin : mbak Lana bisa klik 'ILMU PENGETAHUAN BUDAYA' (menu sebelah kiri di atas kotak informasi budaya). Smoga mendapatkan apa yang di cari yach
  • admin : terimakasih mas ucep. sumbangsih mas ucep dan segenap pecinta budaya sangat menentukan kelangsungan hidup situs ini. ojo lali tuk berkirim data-data budaya. salam budaya..
  • ucep : wah aduhai senangnya ..satu2nya web yang sangat fokus bidang kebudayaan...btw..mesti di rayakan launchingnya...sudahkah?
  • Lana : mas admin, Saya minta tolong dong, boleh ngga dicarikan teori tentang proses-proses kebudayan dan faktor-faktor pembentuk kebudayaan beserta contohnya. terima kasih.
  • NmN : cantik, elok, dan mempesona....kesan pertama begitu menggoda ;)

Smilies?